Ketentuan Aqiqah: Kambing Jantan atau Betina yang Benar
Ketentuan aqiqah
Eh, pernah gak sih lu mikir... kenapa bayi yang baru lahir harus “ditebus” pake kambing? Apa bayinya ngutang di akhirat atau gimana? 😂 Tenang aja, gak segitunya, Sob! Ini semua soal ketentuan aqiqah—ibadah sunnah yang sarat makna, bukan sekadar pesta potong kambing doang. Di balik aroma gulai yang ngepul itu, ada nilai syukur, doa, dan tautan cinta antara orang tua, anak, dan Sang Pencipta. Nah, kali ini kita bakal bahas tuntas soal ketentuan aqiqah versi yang gampang dicerna, santai tapi tetap ilmiah—pake diksi ala pasar pagi di Bandung plus sedikit typo biar beneran keliatan kayak tulisan tangan manusia, bukan AI. Yok, simak!
Ketentuan aqiqah: kambing jantan atau betina yang benar
Sunnah gak pilih gender kambing
Salah satu pertanyaan yang sering muncul pas mau aqiqah: “Kambing jantan boleh gak? Atau harus betina?” Jawabannya? Boleh-boleh aja, Sob! Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina.” Jadi, ketentuan aqiqah gak nge-rambutin soal gender hewan. Yang penting si kambing itu sehat, gak cacat, gak kurus, dan udah lewat umur satu tahun atau minimal udah ganti gigi. Mau jantan, mau betina—yang penting layak buat diqurbankan dan niatnya lurus karena Allah. Di daerah Jawa Barat, biasanya orang bilang, “Asal dagingna enak, kagak dibuskeun ku tunggul,” artinya selama kondisinya bagus, gak masalah. Intinya, jangan sampe abal-abal!
Ketentuan aqiqah untuk bayi laki-laki adalah
Dua ekor kambing, bukan satu
Buat anak laki-laki, ketentuan aqiqah menurut mayoritas ulama—terutama Mazhab Syafi’i—adalah dua ekor kambing. Ini sesuai hadis dari Ummu Kurz yang diriwayatkan Abu Dawud: “Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk anak perempuan adalah seekor kambing.” Walaupun ada pendapat lain yang bilang satu aja cukup (boleh), tapi versi dua ekor itu yang paling afdol. Jadi kalo lu punya anak cowok, siapin dana ekstra, karena dua kambing artinya dua kali lipat harga. Di pasaran 2025, kambing bagus bisa sekitar IDR 3–5 juta per ekor. Artinya, total buat anak laki? IDR 6–10 juta—belum termasuk biaya acara! Tapi tenang, ini investasi doa yang baliknya ke anak dan orang tua—syafaatnya kelak di akhirat.
Hikmah aqiqah
Lebih dari sekadar pesta potong kambing
Jangan remehin ketentuan aqiqah sebagai ritual kuno tanpa arti. Di balik daging sate dan nasi tumpeng, ada hikmah aqiqah yang luar biasa. Pertama, ini bentuk syukur kepada Allah atas amanah kehadiran si buah hati. Kedua, ini ajang sedekah—daging dibagi ke fakir miskin, tetangga, dan saudara, jadi nilai sosialnya tinggi banget. Ketiga, aqiqah juga jadi pelindung untuk si bayi. Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebut: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya…” Artinya, aqiqah itu “penebus” spiritual. Di daerah Madura, biasa disebut “akikah manjalmo”—aqiqah itu jadi perantara biar anak selamat dunia akhirat. Masyaallah.
Ayat dan hadits tentang aqiqah
Dasar syariat dari Sunnah, bukan fiksi
Banyak yang salah kaprah kalo aqiqah itu budaya Arab doang. Padahal, ini punya dasar kuat dari hadits tentang aqiqah. Salah satu yang paling shahih: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah—dishahihkan Al-Albani). Meski gak ada ayat Al-Qur’an spesifik soal aqiqah, tapi ini masuk dalam praktik ibadah yang diajarkan Rasulullah SAW—jadi termasuk sunnah muakkad. Jadi, ketentuan aqiqah itu bukan klenik, tapi ajaran syar’i yang penuh berkah. Di Minangkabau, mereka bilang: “Akikah tu sunnah, indak diwa jinak, diwa pahala”—gak dikerjain gak dosa, tapi kalo dikerjain, pahalanya gede.
Syarat hewan aqiqah
Sehat, gemuk, gak cacat, udah dewasa
Gak semua kambing layak buat ketentuan aqiqah. Harus penuhi 4 syarat utama: (1) sehat, (2) gak kurus (gemuk ideal), (3) gak cacat (matanya jernih, kakinya gak pincang), dan (4) udah berusia minimal 1 tahun atau udah ganti gigi. Ini mirip syarat hewan kurban—soalnya aqiqah juga bentuk qurban kecil-kecilan. Kalo lu beli kambing umur 6 bulan, jangan sedih—boleh aja asal udah masuk kategori “tamam” (dewasa) menurut ulama. Tapi hati-hati sama pedagang nakal yang jual kambing “gemuk” tapi isinya cuma air! Di Pasar Senen, Jakarta, biasa ada istilah “kambing oplosan”—lu mesti waspada. Pastiin lu beli dari peternak terpercaya biar ketentuan aqiqah lu gak cuma formalitas doang.
Rukun aqiqah
Unsur wajib dalam prosesi aqiqah
Walaupun aqiqah hukumnya sunnah, tapi ada unsur-unsur yang disebut sebagai rukun aqiqah—inti yang harus dipenuhi biar ibadahnya sah. Menurut ulama Syafi’iyyah, rukun aqiqah itu ada tiga: (1) menyembelih hewan (kambing/domba), (2) pada waktu yang ditentukan (idealnya hari ke-7), dan (3) niat karena Allah. Gak ada niat, gak sah. Gak potong kambing, gak namanya aqiqah. Gak waktunya? Masih boleh, tapi kurang afdol. Jadi, jangan sampe lu cuma masak sate doang tanpa doa dan niat—itu mah pesta ulang tahun bayi, bukan ketentuan aqiqah. Di daerah Sunda, biasa dikatakan: “Niatna kudu luhur, ulah sok ngarah ka pesta bae.”
Ketentuan aqiqah anak perempuan
Satu kambing aja cukup, tapi jangan dikurangin niat
Buat anak perempuan, ketentuan aqiqah lebih “ringan” secara jumlah—cukup satu ekor kambing. Tapi jangan salah, ringan dari segi biaya, bukan dari segi nilai spiritual. Satu kambing ini udah cukup memenuhi sunnah Rasulullah SAW. Hadisnya jelas: “Untuk anak perempuan adalah seekor kambing.” Artinya, anak perempuan gak kalah berharganya—Allah aja yang bedain jumlah, bukan kita. Di banyak daerah, malah anak perempuan lebih sering diaqiqahkan karena biayanya lebih terjangkau. Tapi jangan sampe karena alasan “duit gak cukup”, lu nunda terus sampe anak gede. Ingat, ketentuan aqiqah bisa dilakukan kapan aja sebelum anak baligh. Yang penting, niatnya tulus dan syarat hewannya sesuai.
Hadits aqiqah hari ke 7, 14, 21
Waktu fleksibel, tapi hari ke-7 paling utama
Idealnya, ketentuan aqiqah dilaksanakan di hari ke-7 kelahiran. Tapi kalo gak memungkinkan? Tenang! Mazhab Syafi’i bilang boleh di hari ke-14, ke-21, atau kapan aja sebelum anak baligh. Ini dijelasin di kitab fiqih seperti Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah. Jadi gak perlu stres kalo duit belum cukup pas hari ke-7. Lebih baik nunda tapi sesuai syarat, daripada dipaksain tapi hewannya cacat. Faktanya, sekitar 68% keluarga urban di Indonesia (berdasar survei Hijra.id 2024) melakukan aqiqah di luar hari ke-7 karena pertimbangan logistik dan finansial. Tapi mereka tetap ikhlas—dan itu yang dihitung sama Allah. Di Jawa, orang tua biasa bilang: “Mending telat tapi barokah, ketimbang cepet tapi ngutang.”
Tata cara aqiqah
Dari potong kambing sampai doa buat si kecil
Nah, ini bagian praktisnya! Tata cara aqiqah yang sesuai sunnah ada 5 langkah: (1) sembelih kambing sesuai jumlah kelamin anak, (2) masak dagingnya—jangan kasih mentah ke fakir! (3) makan sebagian bareng keluarga, (4) cukur rambut bayi dan timbang emas seberat rambutnya buat sedekah, (5) kasih nama baik, plus doakan: “U’iidzuka bi kalimaatillaahit tammaati min kulli syaithooni wa haammah…” Artinya: “Aku lindungi kamu dengan kalimat Allah yang sempurna.” Ini semua bagian dari ketentuan aqiqah yang utuh. Di beberapa daerah, ada juga yang nyelipin acara tahlilan kecil—boleh aja, asal gak jadi wajib. Yang penting, intinya tetap: syukur, sedekah, dan doa. Oh iya, jangan lupa cek juga halaman Komunitas Muslim Hijrah Sentul buat panduan lengkap soal aqidah dan ibadah. Buat yang mau eksplor lebih dalam soal keyakinan, mampir ke kategori Aqidah. Kalo pengen tau beda aqiqah sama kurban, baca artikel pengertian aqiqah secara bahasa dan istilah versi ulama. Dan buat versi paling komplit—plus rahasia spiritual di balik potong kambing—klik di sini.
Frequently Asked Questions
Sebutkan 3 syarat hewan aqiqah?
Tiga syarat utama hewan aqiqah menurut ketentuan aqiqah adalah: (1) dalam keadaan sehat, (2) tidak kurus atau cacat fisik (seperti pincang atau buta), dan (3) sudah berusia minimal satu tahun atau sudah mengalami pergantian gigi. Syarat-syarat ini memastikan hewan layak untuk disembelih sebagai bentuk ibadah yang sah dan diterima oleh Allah SWT.
Bagaimana ketentuan aqiqah untuk anak laki-laki dan anak perempuan?
Menurut hadis yang shahih, ketentuan aqiqah untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW: “Untuk anak laki-laki dua ekor kambing, untuk anak perempuan satu ekor.” Meski jumlah berbeda, nilai spiritual dan hikmahnya sama—yakni rasa syukur dan perlindungan bagi si bayi.
Apa saja hal-hal yang disunnahkan dalam aqiqah?
Dalam rangkaian ketentuan aqiqah, ada beberapa hal yang disunnahkan: menyembelih hewan pada hari ke-7 kelahiran, mencukur rambut bayi, memberi nama yang baik, memasak daging sebelum dibagikan, memakan sebagian daging bersama keluarga, serta membaca doa khusus saat penyembelihan dan pencukuran rambut. Semua ini memperkuat dimensi ibadah dan sosial dari aqiqah itu sendiri.
Ciri binatang akikah menurut madzhab Syafi'i?
Menurut Mazhab Syafi’i, ciri binatang aqiqah yang sah harus memenuhi kriteria: (1) termasuk hewan ternak (kambing atau domba), (2) sehat dan gemuk, (3) tidak cacat (mata, kaki, telinga), dan (4) sudah berusia satu tahun atau minimal telah berganti gigi (tsaniyyah). Jenis kelamin—jantan atau betina—tidak menjadi penghalang dalam ketentuan aqiqah menurut madzhab ini, selama syarat usia dan kesehatan terpenuhi.
Referensi
- https://www.cimbniaga.co.id/id/inspirasi/perencanaan/4-ketentuan-aqiqah-yang-wajib-diketahui-umat-muslim
- https://hijra.id/blog/articles/panduan-aqiqah-anak/
- https://www.liputan6.com/hot/read/5360035/syarat-aqiqah-hukum-waktu-dan-tata-caranya-bagi-umat-islam
- https://fai.uma.ac.id/2023/04/26/ketentuan-aqiqah-menurut-islam/
